Saturday, 21 March 2015

Contoh Naskah Drama



       Januari 2010, kebahagiaan tak dapat ku bendung ketika menerima surat undangan yang tak pernah kuduga. Aku diterima di sekolah tervaforit di Jakarta yaitu SMPN Harapan Bangsa, berkat surat yang awalnya aku kirimkan hanya untuk mencoba-coba saja.
Lidya   : “Ibu... Aku dapat surat!(berteriak sambil berlari menuju ibunya)
Ibu       : “Surat apa, nak?”(bingung)
Lidya   : ”Begini bu, dokumen yang aku kirimkan ke SMPN Harapan Bangsa minggu lalu,                 ternyata  mendapat jawaban dan... tertulis bahwa aku diterima menjadi murid di           SMPN Harapan Bangsa.
Ibu       : ”Alhamdulillah, selamat ya Nak!(sambil memelukku dengan erat dan sedikit                        menitihkan air mata)
Ibu       : “Kamu belajar yang rajin ya nak. Ibu doakan cita-citamu tercapai (mengusap kepala)
Lidya   : “Iya bu..... Amin”
            Keesokan harinya, ketika aku memasuki kelas semua siswa di kelas baruku menatapku dengan pandangan sinis. Terutama seorang wanita dengan rambut panjang yang kemudian menghampiriku.
Stefy   : “ Siapa kamu, ngapain ke kelasku? (berkata dengan sinis)
Lidya   : “Saya...saya murid baru dikelas ini (gugup). Saya diterima dari jalur beasiswa”
Stefy   : “Owh murid beasiswa, pantesan aja gayamu udik (Mengamati pakaian, sepatu dan               rambutku)
Lidya   : “meskipun gaya saya udik, tapi saya masih punya hati tidak seperti kamu yang                    bisanya  hanya menghina orang”
Stefy   : “hahhh.... kamu bilang apa?
            Belum selesai  berbicara, bel  pun berbunyi.
Stefy   : “Urusan kita belum selesai” (menunjuk mata Lidya)
            Bel istirahat pun berbunyi. Lidya menemui seseorang yang nampakanya adalah murid baru. Lidya pun mengajaknya berbicara.
Lidya   : “Hai, namaku Lidya. Kamu murid baru ya? Sepertinya aku selalu melihatmu                      sendiri”
Grace   : “Hai juga. Namaku Grace. Aku sudah 2 tahun bersekolah disini. Tapi aku tidak                   memiliki satupun teman.
Lidya   : “Kok gitu?”(bingung)
Grace   : “Karena semua orang menyangka aku ini orangnya gak asik”
Lidya   : “Kalau begitu bagaimana jika mulai sekarang kita berteman?”
Grace   : “ Kenapa kamu mau berteman denganku?”
Lidya   : “Karena aku pikir kamu itu baik. Lagipula aku juga belum punya teman disini”                    (sambil memegang tangan Grace)
Grace   : “Terima kasih ya” (sambil memegang tangan Lidya).
            Sejak saat itu Lidya dan Grace berteman. Kemana-mana mereka selalu berdua. Tetapi ada yang tidak suka dengan kedekatan mereka berdua. Siapa lagi kalau bukan Stefy dan genknya.
Stefy   : “Heh... udik mau kemana kamu?” (bertanya dengan kasar)
Lidya   : “Maaf... kamu memanggil siapa, saya?
Stefy   : “Siapa lagi kalau bukan kamu!”
Lidya   : “Maaf, tapi nama saya bukan udik, nama saya Anggraini Lidya Sari. Tidak ada kata            udik pada nama saya”
Stefy   : “Terserah aku dong mau manggil kamu apa aja. Mulut aku kok bukan mulutmu. Ini              kan hakku, kamu gak boleh ngelarang.
Kemudian Lidya berlalu dari hadapan Stefy.
Stefy   : “heh... main pergi aja. Jawab dulu pertanyaanku”
Lidya   : “emangnya kenapa ini kan kaki aku. Hak aku dong buat jalan kemana aja”
Stefy   : (mengambil sepatu yang dipakainya untuk dilempar ke arah Lidya, namun tidak sampai      mengenai Lidya)
Bel pulang pun berbunyi.
Lidya   : “Grace kamu pulang sama siapa?”
Grace   : “Supirku, kamu?”
Lidya   : “ Aku dijemput ayahku”
Grace   : “Yuk kita keluar bareng” (ajaknya sambil memegang tanganku)
            Kami berjalan beriringan. Sampai dipintu pagar kami menunggu selama 5 menit, dan kemudian terlihatlah sebuah mobil Fortune putih dari arah Utara.
Grace   : “Lidya, aku dijmeput. Kamu mau bareng? Ayo gak papa kok.
Lidya   :”Tapi entar ayahku jemput. Udah deh kamu duluan aja.
Kemudian HP Lidya berbunyi. Ada pesan masuk.
Grace   : “Siapa yang mengirim pesan?
Lidya   : “Papaku, katanya beliau gak bisa jemput aku. Ada keperluan mendadak.
Grace   : “Yaudah ayo sama aku aja! . Rumah kita kan satu arah”
Lidya   : “Gak papa? Gak ngerepotin kan?”
Grace   : “ Iya... ayo!“ (sambil menarik tanganku menuju mobilnya)
Lidya   : “ Makasih ya Grace.
            Usaha Stefy untuk menghancurkan pertemanan Lidya dan Grace yaitu dengan menghasut Grace untuk bergabung dalam genk-nya.
Stefy   : ‘Halo Grace. Temenmu mana, si udik tuh??”
Grace   : “Lagi ke kantin, beli minuman. Dia punya nama tahu.
Stefy   : “Ahh.. gak penting itu. Sekarang aku mau nawarin ke kamu. Kamu mau enggak                   masuk geng kita. Jarang-jarang loe ada yang aku ajak. Ini pertama kalinya ke kamu”
Grace   : “Enggak” (berlalu dari hadapan Stefy).
Beberap menit kemudian Lidya menghampiri Grace.
Lidya   : “Grace... tadi aku ketemu cowok. Dia keren banget, baik lagi tadi dia nolongin aku              waktu teh aku disenggol. Suaranya bagus lagi, tadi aku sempet denger dia latihan di              Lab Multimedia. Kalau gak salah namanya Reval.
Grace   : “Ciee... Lidya” (mengejek)
Lidya   : (tersenyum malu) “apaan sih kamu ini. Ayo ikut aku, aku kasih tau!”
Kita berlari kecil menuju Lab Multimedia.
Lidya   : “Tuh yang nyayi ganteng kan? Bagus lagi suaranya. Suka deh aku Grace”
Grace   : “Iyya Lid. (tersenyum)
            Sepulang sekolah Grace pergi ke taman tanpa ditemani dengan Lidya. Diam-diam Stefy mengikutinya secara diam-diam.
Grace   : “Sebenarnya aku ingin masuk  ke gengnya Stefy, jika aku berteman dengan Stefy pasti       pamorku akan naik dan Reval pasti suka padaku”(berbicara sendiri)
Tanpa sengaja Stefy mendengar perkataan  Garce.
Stefy   : “Sekali lagi aku tawarkan ke kamu. Kamu mau gak masuk dalam gengku.
Grace   : (berpikir)
Stefy   : “Yaudah kalau gak mau....” (menjauh dari Grace)
Grace   : “Stefy tunggu. Aku terima tawaranmu. Aku mau masuk gengmu.
Stefy   : “Oke, tapi ada syaratnya. Setiap orang yang masuk jadi geng ku harus menerima      tantangan selama 3 hari.
Grace   : “Tantangan apa?” (bingung)
Stefy   : “Mulai sekaramg, kamu harus jauhi Lidya dan kamu harus membawakan tasku dan              teman-teman di sekolah.
Grace   : “Hmhm... Tapi...”
Stefy   : “Cepetang dong. Mau apa enggak? Kalau kamu mau aku pasti membantu kamu supaya      Reval suka sama kamu”
Grace   : “Yaudah deh aku mau”
            Keesokan harinya, Lidya melihat Grace yang sedang membawakan tas Stefy dan teman-temannya. Kemudian Lidya segera mendekati Grace.
Lidya   : “Grace, ngapain kamu bawa tas mereka?
Grace   : “Bukan urusanmu. Urusin aja urusan dirimu sendiri”
Lidya   : “ Grace, kok sikapmu berubah?”
Grace   : (bergegas menjauh dari Lidya dan tidak menjawab pertanyaannya)
Lidya   : “Apa salahku ya? Kenapa sikap Grace kini berubah”
Stefy   : “Rasain... mangkanya jangan pernah ngelawan sama aku”
            Suatu hari, Reval mengundang Gen Blues,Grace,dan Lidya untuk datang ke acara konser pertamanya. Acara itu digunakan Stefy untuk memperlakukan Grace didepan Reval.
Stefy   : “Grace, ikut aku ke Back Stage yuk!”
Grace   : “Untuk apa?”
Stefy   : “Aku punya taktik gimana cara agra Reval suka sama kamu.
Grace   : “Sungguh? Yaudah ayo”
            Di Back Stage, aksi pun dimulai. Tiba-tiba Stefy secara sengaja mendorong Grace dan Grace terjatuh dan tanpa sengaja menenkan tombol pemadam listrik. Suara ricuh penonton terdengar sampai ke ruang Back Stage.
Reval   : (bergegas menuju back stage) “Grace, jadi kamu yang memadamkan listrik. Tega                banget kamu Grace. Jadi, selama ini kamu deket sama aku hanya untuk ngehancurin           konserku. Gak nyangka Aku Grace kamu kayak gini. Sudah ninggalin Lidya sendirian       masih ngehancurin konser aku. Kecewa aku sama kamu Grace”
Grace   : “Reval itu gak sengaja, tadi Stefy dorong aku. Jadi sakelar itu gak sengaja aku pencet.         Iya kan Stefy?” (menoleh ke arah Stefy)
Stefy   : “Enak aja aku diem kok. Aku gak ngedorong kamu Grace.
Grace   : “Stefy kamu kok gitu sih...”
Reval   : “Udah Grace kamu gak usah membela dirimu lagi. ” (berlalu dari ruang Back Stage)
Grace   : “Kamu kok gitu sih Stefy. Katanya mau membantu aku agar Reval suka sama aku. Aku    sampai rela-relain ninggalin Lidya. Tapi, kamu malah mempermalukanku.
Stefy   : “Kamu kira aku beneran?. Hahaha lucu banget kamu. Kamu kira aku gak suka gitu              sama Reval. Masa iya aku relain Reval buat kamu”
Grace   : “Jadi kamu juga suka ke Reval. Jahat kamu Stef” (menangis)
Reval   : “Apa? jadi kalian merencanakan ini semua? Gak punya hati kalian”
Stefy   : “Reval.... sejak kapan kamu disitu? Kamu mendengar banyak? Bukannya kamu tadi            sudah balik ke panggung?” (bingung dan takut)
Reval   : “Aku emang mau balik ke panggung. Tapi, tadi aku lupa untuk menyalakan sakelarnya        kembali, dan aku mendengar yang kalian semua katakan. Dan kamu Grace, tega     banget kamu sama Lidya, kamu tahu akhir-akhir ini dia sering nangis karena kamu.             (Reval pun menjauh dari mereka semua).
Stefy   : “Kamu gak nyalaiin sakelarnya. Aku nyalaiin ya?”
Reval   : “Gak usah. Penontonku sudah banyak yang pulang, dan mulai sekarang jangan deket-         deket aku (Reval meninggalkan ruang Back Stage)
            Keesokan harinya, Reval menghampiri Lidya yang sedang duduk di kursi Taman Sekolah.
Reval   : “Lidya.... aku duduk boleh?
Lidya   : “Iya silahkan. (menunduk)
Reval   : “Kamu nangis lagi? Sudah kamu jangan menangis lagi. Aku akan ngehibur kamu.                Kamu mau denger aku nyanyi kan?”
Lidya   : “Iya” (mengangkat kepalanya)
Reval   : (mulai bernyanyi) “ When I see your face. There’s not a thing that I would change.             Cause you are amazing. Just The way you are. And When you smile (dan seterusnya            hingga lagu itu selesai)
Lidya   : “Suaramu bagus banget Reval. Makasih banget ya sudah ngehibur aku”
Reval   : “Gitu dong senyum. Jangan sedih terus” (mencubit pipi Lidya)
Lidya   : “Sakit tau. Makasih ya”
Reval   : “Sama-sama. Ayo ke kelas.”
            Lidya dan Reval berjalan menuju kelas mereka . Grace yang melihat itu menangis, Ia sadar cinta itu gak bisa dipaksa. Pada saat dikelas Grace meminta maaf pada Lidya.
Grace   : “Lidya aku minta maaf ya. Atas semua sikapku selama ini sama kamu. Kamu mau kan         maafin aku? Gak papa kok kalau kamu mau ngebenci aku. Aku tahu aku salah. Maaf          ya”
Lidya   : “Iya Grace. Aku mau kok maafin aku. Aku bahkan mau temenan sama kamu ”
Grace   : “Makasih ya Lidya. Kamu baek banget. Aku janji gak akan ngehiantin kamu lagi” (berpelukan)
Reval yang melihat itu hanya bisa tersenyum bahagia.
Reval   : “Aku kagum sama kamu Lid, meskipun kamu dikhianatin Grace kamu tetep bisa terima        Grace lagi” (katanya dalam hati)
            Dua bulan setelah UNAS SMP. Reval mengadakan konser pertamanya yang sempat tertunda karena adegan sakelar. Lidya dan Grace menjadi tamu spesial pada hari itu.
Reval   : “Lagu ini aku nyanyikan  buat seorang wanita yang baik, sabar, dan tentunya cantik. Ini     buat kamu Anggraini Lidya Sari”
Lagu Bruno Mars yang berjudul Just The Way You Are melantun dengan indah.
Lidya   : “Grace... dia pernah nyanyiin lagu ini juga di Taman Sekolah”
Grace   : “Iyatah.... Cie Lidya”
            Setelah konser itu selesai. Reval mendekati Lidya yang sedang duduk di ruang ganti.
Lidya   : “Kamu bagus banget tadi” (tersenyum)
Reval   : “Makasih ya Lidya. Lidya aku mau ngomong sesuatu sama kamu”
Lidya   : “Apa?”
Reval   : “Kamu tahu kenapa aku nyanyiin lagi Just The Way You Are buat kamu?
Lidya   : “Enggak tahu. Kenapa?”
Reval   : “Karena aku suka kamu apa adanya. Suka sifatmu. Kamu mau jadi pacarku?”
Lidya   : (melihat ke arah Grace)
Grace   : “Udah jawab, kamu gak usah nge-khawatirin aku. Aku sudah ngerti kalau cinta itu gak       bisa dipaksa. Lagipula aku sudah gak suka lagi sama Reval. Aku suka sama gitarisnya.        Hehehehe”
Lidya   : (melihat kembali ke arah Reval) “Iya”
Reval   : “Makasih Lidya (memegang tangan Lidya).
Lidya   : “Iya Reval. Makasih juga udah ngehibur aku selama ini”
Grace   : “Aku jadi inget kalimat mutiara apabila kamu sabar dan ikhlas menghadapi                         masalahmu, niscaya kamu akan mendapat kebahagiaan suatu saat  pas banget itu              buat kalian berdua. Hehehehehe”
Lidya   : “Apa sih sok puitis deh. Kita tinggal yuk Rev!”
Reval   : “Hehehehe. Ayo. Bye,bye Grace. (Kami pun tertawa senang)

No comments:

Post a Comment