Thursday, 5 February 2015

·         Tema Cerpen   : Pengorbanan dalam sebuah persahabatan.
·         Kerangka         :
I.                        Taufiq menyukai Felinda.
a.       Taufiq telah bersahabat dengan Felinda sejak kecil.
b.      Persahabatan Taufiq, berubah menjadi Cinta.
II.  Taufiq menemui Felinda.
a.       Taufiq ingin mengatakan isi hatinya.
b.      Felinda sedang sibuk dengan penelitian IPAnya.
         III.Taufiq sedih.
a.       Felinda ganti nomor HP.
b.      Taufiq gagal mendapatkannya.
         IV.Taufiq menabrak Rita.
a.       Taufiq lapar.
b.      Dia menabrak adik kelasnya yang bernama Rita.
         V. Taufiq mendapatkan nomor HP Felinda dari Rita.
              a.   Taufiq sangat senang.
              b.   Dia berterima kasih pada Rita.
        VI. Diam-diam Taufiq memperhatikan Felinda.
a.       Felinda semakin kurus.
b.      Wajahnya sering pucat.
VII. Taufiq meminta maaf pada Felinda.
a.       Taufiq dan Felinda satu kelompok.
b.      Felinda bertanya kepada Taufiq atas semua sikapnya akhir-akhir ini.
c.       Taufiq bercerita soal SMS itu.
VIII. Janji Taufiq
a.       Taufiq berjanji pada Felinda untuk lebih berhati-hati.
b.      Taufiq berjanji untuk menjaga persahabatan itu.


Untuk Persahabatan Kita
Namaku Taufiq. Aku berusia 17 tahun, saat ini aku sedang berkuliah di salah satu SMA di kotaku, Bandung. Aku mempunyai seorang sahabat namanya Felinda, dia keturunan Arab. Aku sudah bersahabat dengannya sejak kita berumur 7 tahun. Dia Manis, Baik, tapi agak usil sih. Sejak SD sampai sekarang aku selalu satu sekolah dengan Felinda. Aku tidak pernah menyangka kalo rasa sayang  dan suka ini akan hadir. Pada mulanya aku coba mengusir rasa ini, tapi tidak bisa. Aku tidak tau lagi apa yang harus aku lakukan, hingga aku memutuskan untuk menyatakan perasaanku. Mungkin dengan itu bisa melegakan pikiran dan hatiku.
            Hari itu pukul 06.15, aku berangkat dengan penuh keberanian, untuk mengatakan perasaanku, aku tidak begitu memikirkan apa yang selanjutnya akan terjadi. Yang  penting Felinda tahu. Aku beranikan diriku untuk menemuinya . Dia tampak sangat sibuk dengan pekerjaannya dan sepertinya dia sedang mengerjakan suatu penelitian. Aku urungkan niatku, aku tidak mau menghancurkan cita-citanya menjadi seorang Ilmuwan hanya karena aku terlalu memikirkan egoku. Aku akan menemuinya pada jam istirahat nanti.
            Waktu istirahat pun tiba.
            “ Eh Fel kamu ada waktu kosong gak?” tanyaku pada Felinda.
“Hmhmhm gak ada sih, soalnya, aku mau ngerjain skripsi buat penelitian baru. Tapi kalo kamu perlu banget gak papa kok aku bisa atur waktunya” balas Felinda dengan senyuman. Senyuman yang sangat indah.
“Duhhh, enggak kok aku cuma mau bilang sesuatu yang gak terlalu penting. Di SMS aja ya!” aku membalasnya dengan sebuah senyuman.
“ Owh ya, Fiq nomor aku ganti. Ayo aku dektekan!” balas Felinda.
“ Oke” Aku mengeluarkann HP ku dari kantong celana.
“08596 eheh mau kemana?” kata Felinda ketika tiba tiba ada yang menarik tangannya.
“ Loh Fel belum selesai!” aku tertunduk lemas. Aku  tidak mengejar Felinda, karena aku tau yang menarik Felinda itu adalah kelompok skripsi Felinda. Pasti ada yang penting.
Aku pun berlalu dari kelas XII IPA 2 Felinda dengan wajah murung. Perutku tiba-tiba lapar. Aku langsung menuju kantin dan memesan makanan di kantin.
Beberapa menit kemudian.
            “ Mas ini makanannya ambil sendiri ya, saya mau ke kamar kecil dulu! “ kata Ibu Kantin.
Aku langsung berjalan ke warung Ibu Kantin. Tiba tiba ada seorang perempuan yang menabrakku.
            “ Maaf ya kak, aku gak sengaja” kata seseorang yang menabrakku.
            “ Oke gak papa bisa dicuci kok” aku membalas dengan senyuman ikhlas.
            “ Aku gantiin ya kak.......“
            “ Oke dehh”   
Seorang perempuan itu memesan satu nasi goreng dan dua teh hangat.
            “ Ini kak” kata perempuan tadi.
            “ Iya dik, makasih ya, ngomong-ngomong nama adik siapa?” tanyaku.
“ Oh... nama aku Rita kak, nama kakak Taufiq kan anak kelas XII IPA 2” jawab Rita dengan wajah senang.
            “ Iya dik, “ aku kembali sibuk dengan HP-ku.
            “ Kakak kenapa, kok murung gitu, gak enak ya makananya, atau kurang? “ tanya Rita kembali.
“Enggak kok dek Rita, aku lagi bingung mau minta ke sapa nomor temenku yang namanya Felinda, kamu tau Felinda kan?, yang sering bareng aku tuu!” ceritaku pada Rita.
“ Owh kak Felinda, iya kak aku tau. Aku punya nomornya kok kak. Ayo kak aku dektekan!“ kemudian Rita mendekte nomor Felinda padaku.
“ Makasih banyak ya dek buat makanannya sama nomornya. Aku pulang ya dek” Aku berterima kasih kepada Rita.
Malam pun tiba. Aku tidak sabar untuk segera me SMS Felinda.
Untuk : Felinda
Dari  : Taufiq
Lagi ap nihh Fel???? JJ
Beberapa menit kemudian
Untuk  : Taufiq
Dari    : Felinda
Lagi belajar IPS. Kamu?
Aku menjawab dengan kebingungan.
Untuk : Felinda
Dari   : Taufiq
Loh kok IPS, kan kamu jurusan IPA?
Sudah10 menit, tapi tidak ada jawaban. Dan Hp ku kembali bergetar setelah 15 menit kemudian
Untuk : Taufiq
Dari  : Felinda
Iya maksudnya IPS nya adik sepupukuJJ hehehehe
Aku membalas SMSnya denga deg-degan.
Untuk  : Felinda
Dari    : Taufiq
Fel, aku mau langsung to the point aja sama kamu aku suka sama kamu Fel, aku Cuma mau bilang ini, kelanjutannya terserah kamu aja JJ
Tidak ada jawaban, setelah 15 menit juga tidak ada jawaban. Aku pun meninggalkan HPku  di kamarku. Aku menuju dapur untuk minum. Setelah aku kembali, di layar HPku terdapat satu pesan. Dengan cepat aku mengambil HPku dan membuka pesan.
Untuk : Taufiq
Dari  : Felinda
Maaf Fiq aku gak bisa, kalo kamu sayang aku , aku mohon sama kamu jangan       pernah sms lagi, jangan pernah nyapa aku lagi. Karena aku benci sama kamu!!.
Dengan sangat kebingungan aku membalasnya,dan Felinda tidak pernah membalasnya.
Untuk : Felinda
Dari   : Taufiq
Kenapa Fel, aku punya salah apa sama kamu????? LLL
Keesokan harinya...
            “Hei Fiq, kemaren mau ngomong apa?” kata Felinda sambil menyenggol bahuku.
Aku membalasnya dengan gelengan. Felinda pun berlalu dari hadapanku. “Maaf Fel semua ini aku lakukan karena aku sayang sama kamu” kataku dalam hati. Sebenarnya aku gak sanggup untuk tidak menyapanya. Tapi perkataanya tadi malam, tidak bisa membuatku berkata apapun pada Felinda.
Aku diam-diam memperhatikannya. Sejak aku tidak pernah menyapanya dia terlihat semakin kurus, wajahnya sering pucat. Kondisi ini membuatku khawatir padanya. “Felinda sebenarnya kamu kenapa sih?, bukannya kamu yang nyuruh aku untuk ngejauhi kamu. Tapi, kenapa kamu yang terluka sih. Harusnya aku Fel!.” kataku dalam hati sambil diam-diam memperhatikannya. Aku juga bingung kenapa temannya Felinda juga menanyakan tentang sikapku. Mereka bilang aku yang berubah. Seperti pada waktu itu Syifa yang merupakan teman sebangku Felinda bertanya padaku. Tapi aku tidak menjawab aku takut kalau masalah ini tambah panjang dengan ikut campurnya Syifa dalam masalah ini.
Keesokannya, Guru IPA memberi tugas kami untuk membuat Power Point mengenai penelitian tubuh katak. Aku berkelompok dengan Felinda. Aku bingung harus merasa senang atau kecewa. Aku memilih untuk mengerjakannya di rumah Felinda, karena nanti sore dirumahku akan diadakan acara.
Sorenya, tepat pukul 15.30 Felinda datang ke rumahku. Kerja kelompok itu diawali dengan saling diam. Kita hanya memainkan laptop masing masing. Sampai akhirnya Felinda yang memulai pembicaraan.
            “ Gimana Fiq? Aku mau nyari apa?” tanya Felinda kepada Taufiq.
            “ Terserah” jawabku sangat singkat.
            “ Fiq kamu kenpa sihh?” tanya Felinda.
            “Apanya?” aku bertanya balik pada Felinda.
Aku terus-menerus menjawab pertanyaan Felinda dengan singkat dan cuek, dan Felinda terus menanyaiku dengan pertanyaan yang menurutku aneh.
            “ Kenapa kamu berubah kayak gini?” tanya Felinda kembali, kali ini dia menarik lenganku agar mau berpaling dari laptopku. Tapi aku hanya diam.
            “Fiq jawab pertanyaanku, kenapa kamu berubah?, gak pernah nyapa aku, marah marah terus, aku minta nomormu gak boleh. Kenapa sih?” kata Felinda setengah berteriak, matanya mulai berair.
            “ Bukannya kamu sendiri yang nyuruh aku buat ngejauhin kamu, kamu bilang jangan sms aku lagi dan yang paling aku benci, kamu bilang kamu benci aku tanpa ngasih tau alasannya Fel. Kenapa sekarang nyalahin aku?” balasku juga setengah berteriak.
            “Aku ? kapan aku bilang ke kamu?” tanya Felinda semakin bingung. Kali ini air matanya jatuh.
“Iya Fel kamu bilang di SMS kalau kamu benci aku, kamu nyuruh aku untuk gak nyapa kamu lagi. Tapi sekarang kamu balik nanya” aku berusah meredam emosi.
“Enggak, aku gak pernah SMS kamu, kan kamu gak punya nomorku. Gimana bisa kamu SMS aku?” Balas Felinda. Air matanya semakin deras mengalir.
“Apa?, Jadi waktu itu bukan nomormu” kataku kaget.
“Emangnya sapa yang ngasih kamu nomor itu dan ngaku itu aku? “tanya Felinda.
Taufiq pun bercerita kepada Felinda bahwa setelah dia pergi tanpa memberi nomor HPnya, ada seseorang yang memberinya nomor HP Felinda. Dia adik kelasku dan Felinda, namanya Rita. Di SMSnya dia berkata bahwa dia benci Taufiq. Rita mengaku sebagai Felinda.
Aku menyesal telah melakukan hal ini pada Felinda. Sangat menyesal. Akupun meminta maaf pada Felinda. Aku tenang karena Felinda mau dan bisa memaafkanku dengan ikhlas. Sebagai permintaan maafku, aku berjanji pada Felinda untuk berhati-hati dan aku juga akan mengantar-jemput Felinda selama 1 bulan, meskipun Felinda menolaknya tetapi aku tetap ingin melakukan hal itu.
Aku memang tidak pernah mengungkapkan perasaanku, tetapi itu lebih baik daripada persahabatan yang telah aku dan Felinda  jalani selama 10 tahun terputus hanya karena ke-egoisanku. “Untuk persahabatan kita aku akan merelakan semuanya dan aku akan berusaha menjaganya Fel” kataku dalam hati.
            Menangis memang tidak menyelasaikan masalah, tetapi dengan menangis kita akan sedikit lebih lega. Dan mengorbakan sesuatu yang belum pasti, lebih baik daripada mengorbankan sesuatu yang telah pasti.

No comments:

Post a Comment