·
Tema Cerpen : Pengorbanan dalam sebuah persahabatan.
·
Kerangka :
I.
Taufiq menyukai
Felinda.
a. Taufiq
telah bersahabat dengan Felinda sejak kecil.
b. Persahabatan
Taufiq, berubah menjadi Cinta.
II. Taufiq
menemui Felinda.
a. Taufiq
ingin mengatakan isi hatinya.
b. Felinda
sedang sibuk dengan penelitian IPAnya.
III.Taufiq sedih.
a. Felinda
ganti nomor HP.
b. Taufiq
gagal mendapatkannya.
IV.Taufiq menabrak Rita.
a. Taufiq
lapar.
b. Dia
menabrak adik kelasnya yang bernama Rita.
V. Taufiq mendapatkan nomor HP Felinda
dari Rita.
a. Taufiq sangat senang.
b. Dia berterima kasih pada Rita.
VI. Diam-diam Taufiq memperhatikan
Felinda.
a. Felinda
semakin kurus.
b. Wajahnya
sering pucat.
VII. Taufiq meminta
maaf pada Felinda.
a. Taufiq
dan Felinda satu kelompok.
b. Felinda
bertanya kepada Taufiq atas semua sikapnya akhir-akhir ini.
c. Taufiq
bercerita soal SMS itu.
VIII.
Janji Taufiq
a. Taufiq
berjanji pada Felinda untuk lebih berhati-hati.
b. Taufiq
berjanji untuk menjaga persahabatan itu.
Untuk
Persahabatan Kita
Namaku
Taufiq. Aku berusia 17 tahun, saat ini aku sedang berkuliah di salah satu SMA
di kotaku, Bandung. Aku mempunyai seorang sahabat namanya Felinda, dia
keturunan Arab. Aku sudah bersahabat dengannya sejak kita berumur 7 tahun. Dia
Manis, Baik, tapi agak usil sih. Sejak SD sampai sekarang aku selalu satu
sekolah dengan Felinda. Aku tidak pernah menyangka kalo rasa sayang dan suka ini akan hadir. Pada mulanya aku coba
mengusir rasa ini, tapi tidak bisa. Aku tidak tau lagi apa yang harus aku
lakukan, hingga aku memutuskan untuk menyatakan perasaanku. Mungkin dengan itu
bisa melegakan pikiran dan hatiku.
Hari itu pukul 06.15, aku berangkat
dengan penuh keberanian, untuk mengatakan perasaanku, aku tidak begitu
memikirkan apa yang selanjutnya akan terjadi. Yang penting Felinda tahu. Aku beranikan diriku untuk
menemuinya . Dia tampak sangat sibuk dengan pekerjaannya dan sepertinya dia
sedang mengerjakan suatu penelitian. Aku urungkan niatku, aku tidak mau
menghancurkan cita-citanya menjadi seorang Ilmuwan hanya karena aku terlalu
memikirkan egoku. Aku akan menemuinya pada jam istirahat nanti.
Waktu istirahat pun tiba.
“ Eh Fel kamu ada waktu kosong gak?”
tanyaku pada Felinda.
“Hmhmhm
gak ada sih, soalnya, aku mau ngerjain skripsi buat penelitian baru. Tapi kalo
kamu perlu banget gak papa kok aku bisa atur waktunya” balas Felinda dengan
senyuman. Senyuman yang sangat indah.
“Duhhh,
enggak kok aku cuma mau bilang sesuatu yang gak terlalu penting. Di SMS aja ya!”
aku membalasnya dengan sebuah senyuman.
“
Owh ya, Fiq nomor aku ganti. Ayo aku dektekan!” balas Felinda.
“
Oke” Aku mengeluarkann HP ku dari kantong celana.
“08596
eheh mau kemana?” kata Felinda ketika tiba tiba ada yang menarik tangannya.
“
Loh Fel belum selesai!” aku tertunduk lemas. Aku tidak mengejar Felinda, karena aku tau yang
menarik Felinda itu adalah kelompok skripsi Felinda. Pasti ada yang penting.
Aku
pun berlalu dari kelas XII IPA 2 Felinda dengan wajah murung. Perutku tiba-tiba
lapar. Aku langsung menuju kantin dan memesan makanan di kantin.
Beberapa
menit kemudian.
“ Mas ini makanannya ambil sendiri ya, saya mau ke kamar
kecil dulu! “ kata Ibu Kantin.
Aku
langsung berjalan ke warung Ibu Kantin. Tiba tiba ada seorang perempuan yang
menabrakku.
“ Maaf ya kak, aku gak sengaja” kata seseorang yang
menabrakku.
“ Oke gak papa bisa dicuci kok” aku membalas dengan
senyuman ikhlas.
“ Aku gantiin ya kak.......“
“ Oke dehh”
Seorang
perempuan itu memesan satu nasi goreng dan dua teh hangat.
“ Ini kak” kata perempuan tadi.
“ Iya dik, makasih ya, ngomong-ngomong nama adik siapa?”
tanyaku.
“ Oh... nama aku Rita
kak, nama kakak Taufiq kan anak kelas XII IPA 2” jawab Rita dengan wajah
senang.
“ Iya dik, “ aku kembali sibuk dengan HP-ku.
“ Kakak kenapa, kok murung gitu, gak enak ya makananya,
atau kurang? “ tanya Rita kembali.
“Enggak kok dek Rita,
aku lagi bingung mau minta ke sapa nomor temenku yang namanya Felinda, kamu tau
Felinda kan?, yang sering bareng aku tuu!” ceritaku pada Rita.
“ Owh kak Felinda, iya
kak aku tau. Aku punya nomornya kok kak. Ayo kak aku dektekan!“ kemudian Rita
mendekte nomor Felinda padaku.
“ Makasih banyak ya dek
buat makanannya sama nomornya. Aku pulang ya dek” Aku berterima kasih kepada
Rita.
Malam
pun tiba. Aku tidak sabar untuk segera me SMS Felinda.
Untuk : Felinda
Dari : Taufiq
Lagi ap nihh Fel???? JJ
Beberapa
menit kemudian
Untuk
: Taufiq
Dari :
Felinda
Lagi belajar IPS. Kamu?
Aku menjawab dengan kebingungan.
Untuk : Felinda
Dari :
Taufiq
Loh kok IPS, kan kamu jurusan IPA?
Sudah10
menit, tapi tidak ada jawaban. Dan Hp ku kembali bergetar setelah 15 menit
kemudian
Untuk : Taufiq
Dari : Felinda
Iya maksudnya IPS nya adik sepupukuJJ hehehehe
Aku
membalas SMSnya denga deg-degan.
Untuk : Felinda
Dari :
Taufiq
Fel, aku mau langsung to the point
aja sama kamu aku suka sama kamu Fel, aku Cuma mau bilang ini, kelanjutannya
terserah kamu aja JJ
Tidak ada jawaban, setelah 15 menit juga tidak ada
jawaban. Aku pun meninggalkan HPku di
kamarku. Aku menuju dapur untuk minum. Setelah aku kembali, di layar HPku
terdapat satu pesan. Dengan cepat aku mengambil HPku dan membuka pesan.
Untuk : Taufiq
Dari : Felinda
Maaf Fiq aku gak bisa, kalo kamu sayang
aku , aku mohon sama kamu jangan pernah
sms lagi, jangan pernah nyapa aku lagi. Karena aku benci sama kamu!!.
Dengan
sangat kebingungan aku membalasnya,dan Felinda tidak pernah membalasnya.
Untuk : Felinda
Dari :
Taufiq
Kenapa Fel, aku punya salah apa sama
kamu????? LLL
Keesokan
harinya...
“Hei Fiq, kemaren mau ngomong apa?” kata Felinda sambil
menyenggol bahuku.
Aku
membalasnya dengan gelengan. Felinda pun berlalu dari hadapanku. “Maaf Fel
semua ini aku lakukan karena aku sayang sama kamu” kataku dalam hati.
Sebenarnya aku gak sanggup untuk tidak menyapanya. Tapi perkataanya tadi malam,
tidak bisa membuatku berkata apapun pada Felinda.
Aku
diam-diam memperhatikannya. Sejak aku tidak pernah menyapanya dia terlihat
semakin kurus, wajahnya sering pucat. Kondisi ini membuatku khawatir padanya. “Felinda
sebenarnya kamu kenapa sih?, bukannya kamu yang nyuruh aku untuk ngejauhi kamu.
Tapi, kenapa kamu yang terluka sih. Harusnya aku Fel!.” kataku dalam hati
sambil diam-diam memperhatikannya. Aku juga bingung kenapa temannya Felinda
juga menanyakan tentang sikapku. Mereka bilang aku yang berubah. Seperti pada
waktu itu Syifa yang merupakan teman sebangku Felinda bertanya padaku. Tapi aku
tidak menjawab aku takut kalau masalah ini tambah panjang dengan ikut campurnya
Syifa dalam masalah ini.
Keesokannya,
Guru IPA memberi tugas kami untuk membuat Power Point mengenai penelitian tubuh
katak. Aku berkelompok dengan Felinda. Aku bingung harus merasa senang atau
kecewa. Aku memilih untuk mengerjakannya di rumah Felinda, karena nanti sore
dirumahku akan diadakan acara.
Sorenya,
tepat pukul 15.30 Felinda datang ke rumahku. Kerja kelompok itu diawali dengan
saling diam. Kita hanya memainkan laptop masing masing. Sampai akhirnya Felinda
yang memulai pembicaraan.
“ Gimana Fiq? Aku mau nyari apa?” tanya Felinda kepada
Taufiq.
“ Terserah” jawabku sangat singkat.
“ Fiq kamu kenpa sihh?” tanya Felinda.
“Apanya?” aku bertanya balik pada Felinda.
Aku
terus-menerus menjawab pertanyaan Felinda dengan singkat dan cuek, dan Felinda
terus menanyaiku dengan pertanyaan yang menurutku aneh.
“ Kenapa kamu berubah kayak gini?” tanya Felinda kembali,
kali ini dia menarik lenganku agar mau berpaling dari laptopku. Tapi aku hanya
diam.
“Fiq jawab pertanyaanku, kenapa kamu berubah?, gak pernah
nyapa aku, marah marah terus, aku minta nomormu gak boleh. Kenapa sih?” kata
Felinda setengah berteriak, matanya mulai berair.
“ Bukannya kamu sendiri yang nyuruh aku buat ngejauhin
kamu, kamu bilang jangan sms aku lagi dan yang paling aku benci, kamu bilang
kamu benci aku tanpa ngasih tau alasannya Fel. Kenapa sekarang nyalahin aku?”
balasku juga setengah berteriak.
“Aku ? kapan aku bilang ke kamu?” tanya Felinda semakin
bingung. Kali ini air matanya jatuh.
“Iya Fel kamu bilang di
SMS kalau kamu benci aku, kamu nyuruh aku untuk gak nyapa kamu lagi. Tapi
sekarang kamu balik nanya” aku berusah meredam emosi.
“Enggak, aku gak pernah
SMS kamu, kan kamu gak punya nomorku. Gimana bisa kamu SMS aku?” Balas Felinda.
Air matanya semakin deras mengalir.
“Apa?, Jadi waktu itu
bukan nomormu” kataku kaget.
“Emangnya sapa yang
ngasih kamu nomor itu dan ngaku itu aku? “tanya Felinda.
Taufiq
pun bercerita kepada Felinda bahwa setelah dia pergi tanpa memberi nomor HPnya,
ada seseorang yang memberinya nomor HP Felinda. Dia adik kelasku dan Felinda,
namanya Rita. Di SMSnya dia berkata bahwa dia benci Taufiq. Rita mengaku
sebagai Felinda.
Aku
menyesal telah melakukan hal ini pada Felinda. Sangat menyesal. Akupun meminta
maaf pada Felinda. Aku tenang karena Felinda mau dan bisa memaafkanku dengan
ikhlas. Sebagai permintaan maafku, aku berjanji pada Felinda untuk berhati-hati
dan aku juga akan mengantar-jemput Felinda selama 1 bulan, meskipun Felinda
menolaknya tetapi aku tetap ingin melakukan hal itu.
Aku
memang tidak pernah mengungkapkan perasaanku, tetapi itu lebih baik daripada
persahabatan yang telah aku dan Felinda jalani selama 10 tahun terputus hanya karena
ke-egoisanku. “Untuk persahabatan kita aku akan merelakan semuanya dan aku
akan berusaha menjaganya Fel” kataku dalam hati.
Menangis memang tidak menyelasaikan
masalah, tetapi dengan menangis kita akan sedikit lebih lega. Dan mengorbakan
sesuatu yang belum pasti, lebih baik daripada mengorbankan sesuatu yang telah
pasti.
No comments:
Post a Comment