Saturday, 21 March 2015

Contoh Naskah Drama



       Januari 2010, kebahagiaan tak dapat ku bendung ketika menerima surat undangan yang tak pernah kuduga. Aku diterima di sekolah tervaforit di Jakarta yaitu SMPN Harapan Bangsa, berkat surat yang awalnya aku kirimkan hanya untuk mencoba-coba saja.
Lidya   : “Ibu... Aku dapat surat!(berteriak sambil berlari menuju ibunya)
Ibu       : “Surat apa, nak?”(bingung)
Lidya   : ”Begini bu, dokumen yang aku kirimkan ke SMPN Harapan Bangsa minggu lalu,                 ternyata  mendapat jawaban dan... tertulis bahwa aku diterima menjadi murid di           SMPN Harapan Bangsa.
Ibu       : ”Alhamdulillah, selamat ya Nak!(sambil memelukku dengan erat dan sedikit                        menitihkan air mata)
Ibu       : “Kamu belajar yang rajin ya nak. Ibu doakan cita-citamu tercapai (mengusap kepala)
Lidya   : “Iya bu..... Amin”
            Keesokan harinya, ketika aku memasuki kelas semua siswa di kelas baruku menatapku dengan pandangan sinis. Terutama seorang wanita dengan rambut panjang yang kemudian menghampiriku.
Stefy   : “ Siapa kamu, ngapain ke kelasku? (berkata dengan sinis)
Lidya   : “Saya...saya murid baru dikelas ini (gugup). Saya diterima dari jalur beasiswa”
Stefy   : “Owh murid beasiswa, pantesan aja gayamu udik (Mengamati pakaian, sepatu dan               rambutku)
Lidya   : “meskipun gaya saya udik, tapi saya masih punya hati tidak seperti kamu yang                    bisanya  hanya menghina orang”
Stefy   : “hahhh.... kamu bilang apa?
            Belum selesai  berbicara, bel  pun berbunyi.
Stefy   : “Urusan kita belum selesai” (menunjuk mata Lidya)
            Bel istirahat pun berbunyi. Lidya menemui seseorang yang nampakanya adalah murid baru. Lidya pun mengajaknya berbicara.
Lidya   : “Hai, namaku Lidya. Kamu murid baru ya? Sepertinya aku selalu melihatmu                      sendiri”
Grace   : “Hai juga. Namaku Grace. Aku sudah 2 tahun bersekolah disini. Tapi aku tidak                   memiliki satupun teman.
Lidya   : “Kok gitu?”(bingung)
Grace   : “Karena semua orang menyangka aku ini orangnya gak asik”
Lidya   : “Kalau begitu bagaimana jika mulai sekarang kita berteman?”
Grace   : “ Kenapa kamu mau berteman denganku?”
Lidya   : “Karena aku pikir kamu itu baik. Lagipula aku juga belum punya teman disini”                    (sambil memegang tangan Grace)
Grace   : “Terima kasih ya” (sambil memegang tangan Lidya).
            Sejak saat itu Lidya dan Grace berteman. Kemana-mana mereka selalu berdua. Tetapi ada yang tidak suka dengan kedekatan mereka berdua. Siapa lagi kalau bukan Stefy dan genknya.
Stefy   : “Heh... udik mau kemana kamu?” (bertanya dengan kasar)
Lidya   : “Maaf... kamu memanggil siapa, saya?
Stefy   : “Siapa lagi kalau bukan kamu!”
Lidya   : “Maaf, tapi nama saya bukan udik, nama saya Anggraini Lidya Sari. Tidak ada kata            udik pada nama saya”
Stefy   : “Terserah aku dong mau manggil kamu apa aja. Mulut aku kok bukan mulutmu. Ini              kan hakku, kamu gak boleh ngelarang.
Kemudian Lidya berlalu dari hadapan Stefy.
Stefy   : “heh... main pergi aja. Jawab dulu pertanyaanku”
Lidya   : “emangnya kenapa ini kan kaki aku. Hak aku dong buat jalan kemana aja”
Stefy   : (mengambil sepatu yang dipakainya untuk dilempar ke arah Lidya, namun tidak sampai      mengenai Lidya)
Bel pulang pun berbunyi.
Lidya   : “Grace kamu pulang sama siapa?”
Grace   : “Supirku, kamu?”
Lidya   : “ Aku dijemput ayahku”
Grace   : “Yuk kita keluar bareng” (ajaknya sambil memegang tanganku)
            Kami berjalan beriringan. Sampai dipintu pagar kami menunggu selama 5 menit, dan kemudian terlihatlah sebuah mobil Fortune putih dari arah Utara.
Grace   : “Lidya, aku dijmeput. Kamu mau bareng? Ayo gak papa kok.
Lidya   :”Tapi entar ayahku jemput. Udah deh kamu duluan aja.
Kemudian HP Lidya berbunyi. Ada pesan masuk.
Grace   : “Siapa yang mengirim pesan?
Lidya   : “Papaku, katanya beliau gak bisa jemput aku. Ada keperluan mendadak.
Grace   : “Yaudah ayo sama aku aja! . Rumah kita kan satu arah”
Lidya   : “Gak papa? Gak ngerepotin kan?”
Grace   : “ Iya... ayo!“ (sambil menarik tanganku menuju mobilnya)
Lidya   : “ Makasih ya Grace.
            Usaha Stefy untuk menghancurkan pertemanan Lidya dan Grace yaitu dengan menghasut Grace untuk bergabung dalam genk-nya.
Stefy   : ‘Halo Grace. Temenmu mana, si udik tuh??”
Grace   : “Lagi ke kantin, beli minuman. Dia punya nama tahu.
Stefy   : “Ahh.. gak penting itu. Sekarang aku mau nawarin ke kamu. Kamu mau enggak                   masuk geng kita. Jarang-jarang loe ada yang aku ajak. Ini pertama kalinya ke kamu”
Grace   : “Enggak” (berlalu dari hadapan Stefy).
Beberap menit kemudian Lidya menghampiri Grace.
Lidya   : “Grace... tadi aku ketemu cowok. Dia keren banget, baik lagi tadi dia nolongin aku              waktu teh aku disenggol. Suaranya bagus lagi, tadi aku sempet denger dia latihan di              Lab Multimedia. Kalau gak salah namanya Reval.
Grace   : “Ciee... Lidya” (mengejek)
Lidya   : (tersenyum malu) “apaan sih kamu ini. Ayo ikut aku, aku kasih tau!”
Kita berlari kecil menuju Lab Multimedia.
Lidya   : “Tuh yang nyayi ganteng kan? Bagus lagi suaranya. Suka deh aku Grace”
Grace   : “Iyya Lid. (tersenyum)
            Sepulang sekolah Grace pergi ke taman tanpa ditemani dengan Lidya. Diam-diam Stefy mengikutinya secara diam-diam.
Grace   : “Sebenarnya aku ingin masuk  ke gengnya Stefy, jika aku berteman dengan Stefy pasti       pamorku akan naik dan Reval pasti suka padaku”(berbicara sendiri)
Tanpa sengaja Stefy mendengar perkataan  Garce.
Stefy   : “Sekali lagi aku tawarkan ke kamu. Kamu mau gak masuk dalam gengku.
Grace   : (berpikir)
Stefy   : “Yaudah kalau gak mau....” (menjauh dari Grace)
Grace   : “Stefy tunggu. Aku terima tawaranmu. Aku mau masuk gengmu.
Stefy   : “Oke, tapi ada syaratnya. Setiap orang yang masuk jadi geng ku harus menerima      tantangan selama 3 hari.
Grace   : “Tantangan apa?” (bingung)
Stefy   : “Mulai sekaramg, kamu harus jauhi Lidya dan kamu harus membawakan tasku dan              teman-teman di sekolah.
Grace   : “Hmhm... Tapi...”
Stefy   : “Cepetang dong. Mau apa enggak? Kalau kamu mau aku pasti membantu kamu supaya      Reval suka sama kamu”
Grace   : “Yaudah deh aku mau”
            Keesokan harinya, Lidya melihat Grace yang sedang membawakan tas Stefy dan teman-temannya. Kemudian Lidya segera mendekati Grace.
Lidya   : “Grace, ngapain kamu bawa tas mereka?
Grace   : “Bukan urusanmu. Urusin aja urusan dirimu sendiri”
Lidya   : “ Grace, kok sikapmu berubah?”
Grace   : (bergegas menjauh dari Lidya dan tidak menjawab pertanyaannya)
Lidya   : “Apa salahku ya? Kenapa sikap Grace kini berubah”
Stefy   : “Rasain... mangkanya jangan pernah ngelawan sama aku”
            Suatu hari, Reval mengundang Gen Blues,Grace,dan Lidya untuk datang ke acara konser pertamanya. Acara itu digunakan Stefy untuk memperlakukan Grace didepan Reval.
Stefy   : “Grace, ikut aku ke Back Stage yuk!”
Grace   : “Untuk apa?”
Stefy   : “Aku punya taktik gimana cara agra Reval suka sama kamu.
Grace   : “Sungguh? Yaudah ayo”
            Di Back Stage, aksi pun dimulai. Tiba-tiba Stefy secara sengaja mendorong Grace dan Grace terjatuh dan tanpa sengaja menenkan tombol pemadam listrik. Suara ricuh penonton terdengar sampai ke ruang Back Stage.
Reval   : (bergegas menuju back stage) “Grace, jadi kamu yang memadamkan listrik. Tega                banget kamu Grace. Jadi, selama ini kamu deket sama aku hanya untuk ngehancurin           konserku. Gak nyangka Aku Grace kamu kayak gini. Sudah ninggalin Lidya sendirian       masih ngehancurin konser aku. Kecewa aku sama kamu Grace”
Grace   : “Reval itu gak sengaja, tadi Stefy dorong aku. Jadi sakelar itu gak sengaja aku pencet.         Iya kan Stefy?” (menoleh ke arah Stefy)
Stefy   : “Enak aja aku diem kok. Aku gak ngedorong kamu Grace.
Grace   : “Stefy kamu kok gitu sih...”
Reval   : “Udah Grace kamu gak usah membela dirimu lagi. ” (berlalu dari ruang Back Stage)
Grace   : “Kamu kok gitu sih Stefy. Katanya mau membantu aku agar Reval suka sama aku. Aku    sampai rela-relain ninggalin Lidya. Tapi, kamu malah mempermalukanku.
Stefy   : “Kamu kira aku beneran?. Hahaha lucu banget kamu. Kamu kira aku gak suka gitu              sama Reval. Masa iya aku relain Reval buat kamu”
Grace   : “Jadi kamu juga suka ke Reval. Jahat kamu Stef” (menangis)
Reval   : “Apa? jadi kalian merencanakan ini semua? Gak punya hati kalian”
Stefy   : “Reval.... sejak kapan kamu disitu? Kamu mendengar banyak? Bukannya kamu tadi            sudah balik ke panggung?” (bingung dan takut)
Reval   : “Aku emang mau balik ke panggung. Tapi, tadi aku lupa untuk menyalakan sakelarnya        kembali, dan aku mendengar yang kalian semua katakan. Dan kamu Grace, tega     banget kamu sama Lidya, kamu tahu akhir-akhir ini dia sering nangis karena kamu.             (Reval pun menjauh dari mereka semua).
Stefy   : “Kamu gak nyalaiin sakelarnya. Aku nyalaiin ya?”
Reval   : “Gak usah. Penontonku sudah banyak yang pulang, dan mulai sekarang jangan deket-         deket aku (Reval meninggalkan ruang Back Stage)
            Keesokan harinya, Reval menghampiri Lidya yang sedang duduk di kursi Taman Sekolah.
Reval   : “Lidya.... aku duduk boleh?
Lidya   : “Iya silahkan. (menunduk)
Reval   : “Kamu nangis lagi? Sudah kamu jangan menangis lagi. Aku akan ngehibur kamu.                Kamu mau denger aku nyanyi kan?”
Lidya   : “Iya” (mengangkat kepalanya)
Reval   : (mulai bernyanyi) “ When I see your face. There’s not a thing that I would change.             Cause you are amazing. Just The way you are. And When you smile (dan seterusnya            hingga lagu itu selesai)
Lidya   : “Suaramu bagus banget Reval. Makasih banget ya sudah ngehibur aku”
Reval   : “Gitu dong senyum. Jangan sedih terus” (mencubit pipi Lidya)
Lidya   : “Sakit tau. Makasih ya”
Reval   : “Sama-sama. Ayo ke kelas.”
            Lidya dan Reval berjalan menuju kelas mereka . Grace yang melihat itu menangis, Ia sadar cinta itu gak bisa dipaksa. Pada saat dikelas Grace meminta maaf pada Lidya.
Grace   : “Lidya aku minta maaf ya. Atas semua sikapku selama ini sama kamu. Kamu mau kan         maafin aku? Gak papa kok kalau kamu mau ngebenci aku. Aku tahu aku salah. Maaf          ya”
Lidya   : “Iya Grace. Aku mau kok maafin aku. Aku bahkan mau temenan sama kamu ”
Grace   : “Makasih ya Lidya. Kamu baek banget. Aku janji gak akan ngehiantin kamu lagi” (berpelukan)
Reval yang melihat itu hanya bisa tersenyum bahagia.
Reval   : “Aku kagum sama kamu Lid, meskipun kamu dikhianatin Grace kamu tetep bisa terima        Grace lagi” (katanya dalam hati)
            Dua bulan setelah UNAS SMP. Reval mengadakan konser pertamanya yang sempat tertunda karena adegan sakelar. Lidya dan Grace menjadi tamu spesial pada hari itu.
Reval   : “Lagu ini aku nyanyikan  buat seorang wanita yang baik, sabar, dan tentunya cantik. Ini     buat kamu Anggraini Lidya Sari”
Lagu Bruno Mars yang berjudul Just The Way You Are melantun dengan indah.
Lidya   : “Grace... dia pernah nyanyiin lagu ini juga di Taman Sekolah”
Grace   : “Iyatah.... Cie Lidya”
            Setelah konser itu selesai. Reval mendekati Lidya yang sedang duduk di ruang ganti.
Lidya   : “Kamu bagus banget tadi” (tersenyum)
Reval   : “Makasih ya Lidya. Lidya aku mau ngomong sesuatu sama kamu”
Lidya   : “Apa?”
Reval   : “Kamu tahu kenapa aku nyanyiin lagi Just The Way You Are buat kamu?
Lidya   : “Enggak tahu. Kenapa?”
Reval   : “Karena aku suka kamu apa adanya. Suka sifatmu. Kamu mau jadi pacarku?”
Lidya   : (melihat ke arah Grace)
Grace   : “Udah jawab, kamu gak usah nge-khawatirin aku. Aku sudah ngerti kalau cinta itu gak       bisa dipaksa. Lagipula aku sudah gak suka lagi sama Reval. Aku suka sama gitarisnya.        Hehehehe”
Lidya   : (melihat kembali ke arah Reval) “Iya”
Reval   : “Makasih Lidya (memegang tangan Lidya).
Lidya   : “Iya Reval. Makasih juga udah ngehibur aku selama ini”
Grace   : “Aku jadi inget kalimat mutiara apabila kamu sabar dan ikhlas menghadapi                         masalahmu, niscaya kamu akan mendapat kebahagiaan suatu saat  pas banget itu              buat kalian berdua. Hehehehehe”
Lidya   : “Apa sih sok puitis deh. Kita tinggal yuk Rev!”
Reval   : “Hehehehe. Ayo. Bye,bye Grace. (Kami pun tertawa senang)

Thursday, 5 February 2015

·         Tema Cerpen   : Pengorbanan dalam sebuah persahabatan.
·         Kerangka         :
I.                        Taufiq menyukai Felinda.
a.       Taufiq telah bersahabat dengan Felinda sejak kecil.
b.      Persahabatan Taufiq, berubah menjadi Cinta.
II.  Taufiq menemui Felinda.
a.       Taufiq ingin mengatakan isi hatinya.
b.      Felinda sedang sibuk dengan penelitian IPAnya.
         III.Taufiq sedih.
a.       Felinda ganti nomor HP.
b.      Taufiq gagal mendapatkannya.
         IV.Taufiq menabrak Rita.
a.       Taufiq lapar.
b.      Dia menabrak adik kelasnya yang bernama Rita.
         V. Taufiq mendapatkan nomor HP Felinda dari Rita.
              a.   Taufiq sangat senang.
              b.   Dia berterima kasih pada Rita.
        VI. Diam-diam Taufiq memperhatikan Felinda.
a.       Felinda semakin kurus.
b.      Wajahnya sering pucat.
VII. Taufiq meminta maaf pada Felinda.
a.       Taufiq dan Felinda satu kelompok.
b.      Felinda bertanya kepada Taufiq atas semua sikapnya akhir-akhir ini.
c.       Taufiq bercerita soal SMS itu.
VIII. Janji Taufiq
a.       Taufiq berjanji pada Felinda untuk lebih berhati-hati.
b.      Taufiq berjanji untuk menjaga persahabatan itu.


Untuk Persahabatan Kita
Namaku Taufiq. Aku berusia 17 tahun, saat ini aku sedang berkuliah di salah satu SMA di kotaku, Bandung. Aku mempunyai seorang sahabat namanya Felinda, dia keturunan Arab. Aku sudah bersahabat dengannya sejak kita berumur 7 tahun. Dia Manis, Baik, tapi agak usil sih. Sejak SD sampai sekarang aku selalu satu sekolah dengan Felinda. Aku tidak pernah menyangka kalo rasa sayang  dan suka ini akan hadir. Pada mulanya aku coba mengusir rasa ini, tapi tidak bisa. Aku tidak tau lagi apa yang harus aku lakukan, hingga aku memutuskan untuk menyatakan perasaanku. Mungkin dengan itu bisa melegakan pikiran dan hatiku.
            Hari itu pukul 06.15, aku berangkat dengan penuh keberanian, untuk mengatakan perasaanku, aku tidak begitu memikirkan apa yang selanjutnya akan terjadi. Yang  penting Felinda tahu. Aku beranikan diriku untuk menemuinya . Dia tampak sangat sibuk dengan pekerjaannya dan sepertinya dia sedang mengerjakan suatu penelitian. Aku urungkan niatku, aku tidak mau menghancurkan cita-citanya menjadi seorang Ilmuwan hanya karena aku terlalu memikirkan egoku. Aku akan menemuinya pada jam istirahat nanti.
            Waktu istirahat pun tiba.
            “ Eh Fel kamu ada waktu kosong gak?” tanyaku pada Felinda.
“Hmhmhm gak ada sih, soalnya, aku mau ngerjain skripsi buat penelitian baru. Tapi kalo kamu perlu banget gak papa kok aku bisa atur waktunya” balas Felinda dengan senyuman. Senyuman yang sangat indah.
“Duhhh, enggak kok aku cuma mau bilang sesuatu yang gak terlalu penting. Di SMS aja ya!” aku membalasnya dengan sebuah senyuman.
“ Owh ya, Fiq nomor aku ganti. Ayo aku dektekan!” balas Felinda.
“ Oke” Aku mengeluarkann HP ku dari kantong celana.
“08596 eheh mau kemana?” kata Felinda ketika tiba tiba ada yang menarik tangannya.
“ Loh Fel belum selesai!” aku tertunduk lemas. Aku  tidak mengejar Felinda, karena aku tau yang menarik Felinda itu adalah kelompok skripsi Felinda. Pasti ada yang penting.
Aku pun berlalu dari kelas XII IPA 2 Felinda dengan wajah murung. Perutku tiba-tiba lapar. Aku langsung menuju kantin dan memesan makanan di kantin.
Beberapa menit kemudian.
            “ Mas ini makanannya ambil sendiri ya, saya mau ke kamar kecil dulu! “ kata Ibu Kantin.
Aku langsung berjalan ke warung Ibu Kantin. Tiba tiba ada seorang perempuan yang menabrakku.
            “ Maaf ya kak, aku gak sengaja” kata seseorang yang menabrakku.
            “ Oke gak papa bisa dicuci kok” aku membalas dengan senyuman ikhlas.
            “ Aku gantiin ya kak.......“
            “ Oke dehh”   
Seorang perempuan itu memesan satu nasi goreng dan dua teh hangat.
            “ Ini kak” kata perempuan tadi.
            “ Iya dik, makasih ya, ngomong-ngomong nama adik siapa?” tanyaku.
“ Oh... nama aku Rita kak, nama kakak Taufiq kan anak kelas XII IPA 2” jawab Rita dengan wajah senang.
            “ Iya dik, “ aku kembali sibuk dengan HP-ku.
            “ Kakak kenapa, kok murung gitu, gak enak ya makananya, atau kurang? “ tanya Rita kembali.
“Enggak kok dek Rita, aku lagi bingung mau minta ke sapa nomor temenku yang namanya Felinda, kamu tau Felinda kan?, yang sering bareng aku tuu!” ceritaku pada Rita.
“ Owh kak Felinda, iya kak aku tau. Aku punya nomornya kok kak. Ayo kak aku dektekan!“ kemudian Rita mendekte nomor Felinda padaku.
“ Makasih banyak ya dek buat makanannya sama nomornya. Aku pulang ya dek” Aku berterima kasih kepada Rita.
Malam pun tiba. Aku tidak sabar untuk segera me SMS Felinda.
Untuk : Felinda
Dari  : Taufiq
Lagi ap nihh Fel???? JJ
Beberapa menit kemudian
Untuk  : Taufiq
Dari    : Felinda
Lagi belajar IPS. Kamu?
Aku menjawab dengan kebingungan.
Untuk : Felinda
Dari   : Taufiq
Loh kok IPS, kan kamu jurusan IPA?
Sudah10 menit, tapi tidak ada jawaban. Dan Hp ku kembali bergetar setelah 15 menit kemudian
Untuk : Taufiq
Dari  : Felinda
Iya maksudnya IPS nya adik sepupukuJJ hehehehe
Aku membalas SMSnya denga deg-degan.
Untuk  : Felinda
Dari    : Taufiq
Fel, aku mau langsung to the point aja sama kamu aku suka sama kamu Fel, aku Cuma mau bilang ini, kelanjutannya terserah kamu aja JJ
Tidak ada jawaban, setelah 15 menit juga tidak ada jawaban. Aku pun meninggalkan HPku  di kamarku. Aku menuju dapur untuk minum. Setelah aku kembali, di layar HPku terdapat satu pesan. Dengan cepat aku mengambil HPku dan membuka pesan.
Untuk : Taufiq
Dari  : Felinda
Maaf Fiq aku gak bisa, kalo kamu sayang aku , aku mohon sama kamu jangan       pernah sms lagi, jangan pernah nyapa aku lagi. Karena aku benci sama kamu!!.
Dengan sangat kebingungan aku membalasnya,dan Felinda tidak pernah membalasnya.
Untuk : Felinda
Dari   : Taufiq
Kenapa Fel, aku punya salah apa sama kamu????? LLL
Keesokan harinya...
            “Hei Fiq, kemaren mau ngomong apa?” kata Felinda sambil menyenggol bahuku.
Aku membalasnya dengan gelengan. Felinda pun berlalu dari hadapanku. “Maaf Fel semua ini aku lakukan karena aku sayang sama kamu” kataku dalam hati. Sebenarnya aku gak sanggup untuk tidak menyapanya. Tapi perkataanya tadi malam, tidak bisa membuatku berkata apapun pada Felinda.
Aku diam-diam memperhatikannya. Sejak aku tidak pernah menyapanya dia terlihat semakin kurus, wajahnya sering pucat. Kondisi ini membuatku khawatir padanya. “Felinda sebenarnya kamu kenapa sih?, bukannya kamu yang nyuruh aku untuk ngejauhi kamu. Tapi, kenapa kamu yang terluka sih. Harusnya aku Fel!.” kataku dalam hati sambil diam-diam memperhatikannya. Aku juga bingung kenapa temannya Felinda juga menanyakan tentang sikapku. Mereka bilang aku yang berubah. Seperti pada waktu itu Syifa yang merupakan teman sebangku Felinda bertanya padaku. Tapi aku tidak menjawab aku takut kalau masalah ini tambah panjang dengan ikut campurnya Syifa dalam masalah ini.
Keesokannya, Guru IPA memberi tugas kami untuk membuat Power Point mengenai penelitian tubuh katak. Aku berkelompok dengan Felinda. Aku bingung harus merasa senang atau kecewa. Aku memilih untuk mengerjakannya di rumah Felinda, karena nanti sore dirumahku akan diadakan acara.
Sorenya, tepat pukul 15.30 Felinda datang ke rumahku. Kerja kelompok itu diawali dengan saling diam. Kita hanya memainkan laptop masing masing. Sampai akhirnya Felinda yang memulai pembicaraan.
            “ Gimana Fiq? Aku mau nyari apa?” tanya Felinda kepada Taufiq.
            “ Terserah” jawabku sangat singkat.
            “ Fiq kamu kenpa sihh?” tanya Felinda.
            “Apanya?” aku bertanya balik pada Felinda.
Aku terus-menerus menjawab pertanyaan Felinda dengan singkat dan cuek, dan Felinda terus menanyaiku dengan pertanyaan yang menurutku aneh.
            “ Kenapa kamu berubah kayak gini?” tanya Felinda kembali, kali ini dia menarik lenganku agar mau berpaling dari laptopku. Tapi aku hanya diam.
            “Fiq jawab pertanyaanku, kenapa kamu berubah?, gak pernah nyapa aku, marah marah terus, aku minta nomormu gak boleh. Kenapa sih?” kata Felinda setengah berteriak, matanya mulai berair.
            “ Bukannya kamu sendiri yang nyuruh aku buat ngejauhin kamu, kamu bilang jangan sms aku lagi dan yang paling aku benci, kamu bilang kamu benci aku tanpa ngasih tau alasannya Fel. Kenapa sekarang nyalahin aku?” balasku juga setengah berteriak.
            “Aku ? kapan aku bilang ke kamu?” tanya Felinda semakin bingung. Kali ini air matanya jatuh.
“Iya Fel kamu bilang di SMS kalau kamu benci aku, kamu nyuruh aku untuk gak nyapa kamu lagi. Tapi sekarang kamu balik nanya” aku berusah meredam emosi.
“Enggak, aku gak pernah SMS kamu, kan kamu gak punya nomorku. Gimana bisa kamu SMS aku?” Balas Felinda. Air matanya semakin deras mengalir.
“Apa?, Jadi waktu itu bukan nomormu” kataku kaget.
“Emangnya sapa yang ngasih kamu nomor itu dan ngaku itu aku? “tanya Felinda.
Taufiq pun bercerita kepada Felinda bahwa setelah dia pergi tanpa memberi nomor HPnya, ada seseorang yang memberinya nomor HP Felinda. Dia adik kelasku dan Felinda, namanya Rita. Di SMSnya dia berkata bahwa dia benci Taufiq. Rita mengaku sebagai Felinda.
Aku menyesal telah melakukan hal ini pada Felinda. Sangat menyesal. Akupun meminta maaf pada Felinda. Aku tenang karena Felinda mau dan bisa memaafkanku dengan ikhlas. Sebagai permintaan maafku, aku berjanji pada Felinda untuk berhati-hati dan aku juga akan mengantar-jemput Felinda selama 1 bulan, meskipun Felinda menolaknya tetapi aku tetap ingin melakukan hal itu.
Aku memang tidak pernah mengungkapkan perasaanku, tetapi itu lebih baik daripada persahabatan yang telah aku dan Felinda  jalani selama 10 tahun terputus hanya karena ke-egoisanku. “Untuk persahabatan kita aku akan merelakan semuanya dan aku akan berusaha menjaganya Fel” kataku dalam hati.
            Menangis memang tidak menyelasaikan masalah, tetapi dengan menangis kita akan sedikit lebih lega. Dan mengorbakan sesuatu yang belum pasti, lebih baik daripada mengorbankan sesuatu yang telah pasti.