Januari 2010, kebahagiaan tak dapat ku bendung ketika menerima
surat undangan yang tak pernah kuduga. Aku diterima di sekolah tervaforit di
Jakarta yaitu SMPN Harapan Bangsa, berkat surat yang awalnya aku kirimkan hanya
untuk mencoba-coba saja.
Lidya : “Ibu... Aku dapat
surat!(berteriak sambil berlari menuju ibunya)
Ibu : “Surat apa,
nak?”(bingung)
Lidya : ”Begini bu, dokumen
yang aku kirimkan ke SMPN Harapan Bangsa minggu lalu, ternyata mendapat jawaban dan... tertulis bahwa aku
diterima menjadi murid di SMPN Harapan Bangsa.
Ibu : ”Alhamdulillah,
selamat ya Nak!(sambil memelukku dengan erat dan sedikit menitihkan air mata)
Ibu : “Kamu belajar yang
rajin ya nak. Ibu doakan cita-citamu tercapai (mengusap kepala)
Lidya : “Iya bu..... Amin”
Keesokan harinya,
ketika aku memasuki kelas semua siswa di kelas baruku menatapku dengan
pandangan sinis. Terutama seorang wanita dengan rambut panjang yang kemudian
menghampiriku.
Stefy : “ Siapa kamu,
ngapain ke kelasku? (berkata dengan sinis)
Lidya : “Saya...saya murid
baru dikelas ini (gugup). Saya diterima dari jalur beasiswa”
Stefy : “Owh murid beasiswa,
pantesan aja gayamu udik (Mengamati pakaian, sepatu dan rambutku)
Lidya : “meskipun gaya saya
udik, tapi saya masih punya hati tidak seperti kamu yang bisanya
hanya menghina orang”
Stefy : “hahhh.... kamu bilang
apa?
Belum selesai berbicara, bel pun berbunyi.
Stefy : “Urusan kita belum
selesai” (menunjuk mata Lidya)
Bel istirahat pun
berbunyi. Lidya menemui seseorang yang nampakanya adalah murid baru. Lidya pun
mengajaknya berbicara.
Lidya : “Hai, namaku Lidya.
Kamu murid baru ya? Sepertinya aku selalu melihatmu sendiri”
Grace : “Hai juga. Namaku
Grace. Aku sudah 2 tahun bersekolah disini. Tapi aku tidak memiliki satupun teman.
Lidya : “Kok gitu?”(bingung)
Grace : “Karena semua orang
menyangka aku ini orangnya gak asik”
Lidya : “Kalau begitu
bagaimana jika mulai sekarang kita berteman?”
Grace : “ Kenapa kamu mau
berteman denganku?”
Lidya : “Karena aku pikir
kamu itu baik. Lagipula aku juga belum punya teman disini” (sambil memegang tangan Grace)
Grace : “Terima kasih ya”
(sambil memegang tangan Lidya).
Sejak saat itu
Lidya dan Grace berteman. Kemana-mana mereka selalu berdua. Tetapi ada yang
tidak suka dengan kedekatan mereka berdua. Siapa lagi kalau bukan Stefy dan
genknya.
Stefy : “Heh... udik mau
kemana kamu?” (bertanya dengan kasar)
Lidya : “Maaf... kamu
memanggil siapa, saya?
Stefy : “Siapa lagi kalau
bukan kamu!”
Lidya : “Maaf, tapi nama
saya bukan udik, nama saya Anggraini Lidya Sari. Tidak ada kata udik pada nama saya”
Stefy : “Terserah aku dong
mau manggil kamu apa aja. Mulut aku kok bukan mulutmu. Ini kan hakku, kamu gak boleh ngelarang.
Kemudian Lidya berlalu dari hadapan Stefy.
Stefy : “heh... main pergi
aja. Jawab dulu pertanyaanku”
Lidya : “emangnya kenapa ini
kan kaki aku. Hak aku dong buat jalan kemana aja”
Stefy : (mengambil sepatu
yang dipakainya untuk dilempar ke arah Lidya, namun tidak sampai mengenai
Lidya)
Bel pulang pun berbunyi.
Lidya : “Grace kamu pulang
sama siapa?”
Grace : “Supirku, kamu?”
Lidya : “ Aku dijemput
ayahku”
Grace : “Yuk kita keluar
bareng” (ajaknya sambil memegang tanganku)
Kami berjalan
beriringan. Sampai dipintu pagar kami menunggu selama 5 menit, dan kemudian
terlihatlah sebuah mobil Fortune putih dari arah Utara.
Grace : “Lidya, aku dijmeput.
Kamu mau bareng? Ayo gak papa kok.
Lidya :”Tapi entar ayahku
jemput. Udah deh kamu duluan aja.
Kemudian HP Lidya berbunyi. Ada pesan masuk.
Grace : “Siapa yang mengirim
pesan?
Lidya : “Papaku, katanya
beliau gak bisa jemput aku. Ada keperluan mendadak.
Grace : “Yaudah ayo sama aku
aja! . Rumah kita kan satu arah”
Lidya : “Gak papa? Gak
ngerepotin kan?”
Grace : “ Iya... ayo!“
(sambil menarik tanganku menuju mobilnya)
Lidya : “ Makasih ya Grace.
Usaha Stefy untuk
menghancurkan pertemanan Lidya dan Grace yaitu dengan menghasut Grace untuk
bergabung dalam genk-nya.
Stefy : ‘Halo Grace. Temenmu
mana, si udik tuh??”
Grace : “Lagi ke kantin,
beli minuman. Dia punya nama tahu.
Stefy : “Ahh.. gak penting
itu. Sekarang aku mau nawarin ke kamu. Kamu mau enggak masuk geng kita.
Jarang-jarang loe ada yang aku ajak. Ini pertama kalinya ke kamu”
Grace : “Enggak” (berlalu
dari hadapan Stefy).
Beberap menit kemudian Lidya menghampiri Grace.
Lidya : “Grace... tadi aku
ketemu cowok. Dia keren banget, baik lagi tadi dia nolongin aku waktu teh aku disenggol. Suaranya bagus
lagi, tadi aku sempet denger dia latihan di Lab Multimedia. Kalau gak salah namanya
Reval.
Grace : “Ciee... Lidya”
(mengejek)
Lidya : (tersenyum malu)
“apaan sih kamu ini. Ayo ikut aku, aku kasih tau!”
Kita berlari kecil menuju Lab Multimedia.
Lidya : “Tuh yang nyayi
ganteng kan? Bagus lagi suaranya. Suka deh aku Grace”
Grace : “Iyya Lid.
(tersenyum)
Sepulang sekolah
Grace pergi ke taman tanpa ditemani dengan Lidya. Diam-diam Stefy mengikutinya
secara diam-diam.
Grace : “Sebenarnya aku
ingin masuk ke gengnya Stefy, jika aku
berteman dengan Stefy pasti pamorku akan naik dan Reval pasti suka
padaku”(berbicara sendiri)
Tanpa sengaja Stefy mendengar perkataan Garce.
Stefy : “Sekali lagi aku
tawarkan ke kamu. Kamu mau gak masuk dalam gengku.
Grace : (berpikir)
Stefy : “Yaudah kalau gak
mau....” (menjauh dari Grace)
Grace : “Stefy tunggu. Aku
terima tawaranmu. Aku mau masuk gengmu.
Stefy : “Oke, tapi ada
syaratnya. Setiap orang yang masuk jadi geng ku harus menerima tantangan selama 3 hari.
Grace : “Tantangan apa?”
(bingung)
Stefy : “Mulai sekaramg,
kamu harus jauhi Lidya dan kamu harus membawakan tasku dan teman-teman di sekolah.
Grace : “Hmhm... Tapi...”
Stefy : “Cepetang dong. Mau
apa enggak? Kalau kamu mau aku pasti membantu kamu supaya Reval
suka sama kamu”
Grace : “Yaudah deh aku mau”
Keesokan harinya,
Lidya melihat Grace yang sedang membawakan tas Stefy dan teman-temannya.
Kemudian Lidya segera mendekati Grace.
Lidya : “Grace, ngapain kamu
bawa tas mereka?
Grace : “Bukan urusanmu.
Urusin aja urusan dirimu sendiri”
Lidya : “ Grace, kok sikapmu
berubah?”
Grace : (bergegas menjauh
dari Lidya dan tidak menjawab pertanyaannya)
Lidya : “Apa salahku ya?
Kenapa sikap Grace kini berubah”
Stefy : “Rasain... mangkanya
jangan pernah ngelawan sama aku”
Suatu hari, Reval
mengundang Gen Blues,Grace,dan Lidya untuk datang ke acara konser pertamanya.
Acara itu digunakan Stefy untuk memperlakukan Grace didepan Reval.
Stefy : “Grace, ikut aku ke
Back Stage yuk!”
Grace : “Untuk apa?”
Stefy : “Aku punya taktik gimana
cara agra Reval suka sama kamu.
Grace : “Sungguh? Yaudah
ayo”
Di Back Stage,
aksi pun dimulai. Tiba-tiba Stefy secara sengaja mendorong Grace dan Grace
terjatuh dan tanpa sengaja menenkan tombol pemadam listrik. Suara ricuh
penonton terdengar sampai ke ruang Back Stage.
Reval : (bergegas menuju
back stage) “Grace, jadi kamu yang memadamkan listrik. Tega banget kamu Grace. Jadi, selama ini kamu
deket sama aku hanya untuk ngehancurin
konserku. Gak nyangka Aku Grace kamu kayak
gini. Sudah ninggalin Lidya sendirian masih ngehancurin konser aku. Kecewa aku
sama kamu Grace”
Grace : “Reval itu gak
sengaja, tadi Stefy dorong aku. Jadi sakelar itu gak sengaja aku pencet. Iya kan Stefy?” (menoleh ke arah Stefy)
Stefy : “Enak aja aku diem
kok. Aku gak ngedorong kamu Grace.
Grace : “Stefy kamu kok gitu
sih...”
Reval : “Udah Grace kamu gak
usah membela dirimu lagi. ” (berlalu dari ruang Back Stage)
Grace : “Kamu kok gitu sih
Stefy. Katanya mau membantu aku agar Reval suka sama aku. Aku sampai
rela-relain ninggalin Lidya. Tapi, kamu malah mempermalukanku.
Stefy : “Kamu kira aku
beneran?. Hahaha lucu banget kamu. Kamu kira aku gak suka gitu sama Reval. Masa iya aku relain Reval buat
kamu”
Grace : “Jadi kamu juga suka
ke Reval. Jahat kamu Stef” (menangis)
Reval : “Apa? jadi kalian
merencanakan ini semua? Gak punya hati kalian”
Stefy : “Reval.... sejak
kapan kamu disitu? Kamu mendengar banyak? Bukannya kamu tadi sudah balik ke panggung?” (bingung dan
takut)
Reval : “Aku emang mau balik
ke panggung. Tapi, tadi aku lupa untuk menyalakan sakelarnya kembali, dan aku mendengar yang kalian
semua katakan. Dan kamu Grace, tega banget kamu sama Lidya, kamu tahu
akhir-akhir ini dia sering nangis karena kamu. (Reval pun menjauh dari mereka semua).
Stefy : “Kamu gak nyalaiin
sakelarnya. Aku nyalaiin ya?”
Reval : “Gak usah.
Penontonku sudah banyak yang pulang, dan mulai sekarang jangan deket-
deket aku (Reval meninggalkan ruang Back Stage)
Keesokan harinya,
Reval menghampiri Lidya yang sedang duduk di kursi Taman Sekolah.
Reval : “Lidya.... aku duduk
boleh?
Lidya : “Iya silahkan.
(menunduk)
Reval : “Kamu nangis lagi?
Sudah kamu jangan menangis lagi. Aku akan ngehibur kamu. Kamu
mau denger aku nyanyi kan?”
Lidya : “Iya” (mengangkat
kepalanya)
Reval : (mulai bernyanyi) “
When I see your face. There’s not a thing that I would change. Cause you are amazing. Just The way you are.
And When you smile (dan seterusnya hingga lagu itu selesai)
Lidya : “Suaramu bagus
banget Reval. Makasih banget ya sudah ngehibur aku”
Reval : “Gitu dong senyum.
Jangan sedih terus” (mencubit pipi Lidya)
Lidya : “Sakit tau. Makasih
ya”
Reval : “Sama-sama. Ayo ke
kelas.”
Lidya dan Reval
berjalan menuju kelas mereka . Grace yang melihat itu menangis, Ia sadar cinta
itu gak bisa dipaksa. Pada saat dikelas Grace meminta maaf pada Lidya.
Grace : “Lidya aku minta
maaf ya. Atas semua sikapku selama ini sama kamu. Kamu mau kan maafin aku? Gak papa kok kalau kamu mau
ngebenci aku. Aku tahu aku salah. Maaf
ya”
Lidya : “Iya Grace. Aku mau
kok maafin aku. Aku bahkan mau temenan sama kamu ”
Grace : “Makasih ya Lidya.
Kamu baek banget. Aku janji gak akan ngehiantin kamu lagi” (berpelukan)
Reval yang melihat itu hanya bisa tersenyum bahagia.
Reval : “Aku kagum sama kamu
Lid, meskipun kamu dikhianatin Grace kamu tetep bisa terima Grace lagi” (katanya dalam hati)
Dua bulan setelah
UNAS SMP. Reval mengadakan konser pertamanya yang sempat tertunda karena adegan
sakelar. Lidya dan Grace menjadi tamu spesial pada hari itu.
Reval : “Lagu ini aku
nyanyikan buat seorang wanita yang baik,
sabar, dan tentunya cantik. Ini buat kamu Anggraini Lidya Sari”
Lagu Bruno Mars yang berjudul Just The Way You Are melantun dengan
indah.
Lidya : “Grace... dia pernah
nyanyiin lagu ini juga di Taman Sekolah”
Grace : “Iyatah.... Cie
Lidya”
Setelah konser itu
selesai. Reval mendekati Lidya yang sedang duduk di ruang ganti.
Lidya : “Kamu bagus banget
tadi” (tersenyum)
Reval : “Makasih ya Lidya. Lidya
aku mau ngomong sesuatu sama kamu”
Lidya : “Apa?”
Reval : “Kamu tahu kenapa
aku nyanyiin lagi Just The Way You Are buat kamu?
Lidya : “Enggak tahu. Kenapa?”
Reval : “Karena aku suka
kamu apa adanya. Suka sifatmu. Kamu mau jadi pacarku?”
Lidya : (melihat ke arah
Grace)
Grace : “Udah jawab, kamu
gak usah nge-khawatirin aku. Aku sudah ngerti kalau cinta itu gak bisa
dipaksa. Lagipula aku sudah gak suka lagi sama Reval. Aku suka sama gitarisnya.
Hehehehe”
Lidya : (melihat kembali ke
arah Reval) “Iya”
Reval : “Makasih Lidya
(memegang tangan Lidya).
Lidya : “Iya Reval. Makasih
juga udah ngehibur aku selama ini”
Grace : “Aku jadi inget
kalimat mutiara apabila kamu sabar dan ikhlas menghadapi masalahmu, niscaya kamu akan mendapat
kebahagiaan suatu saat pas banget
itu buat kalian berdua. Hehehehehe”
Lidya : “Apa sih sok puitis
deh. Kita tinggal yuk Rev!”
Reval : “Hehehehe. Ayo. Bye,bye
Grace. (Kami pun tertawa senang)